Friday, February 3, 2012

This is the Day...

Finally "the Day" is coming..FYI this post is late like 2 weeks..

-14 November 2011-

Bagaimana sih rasanya "gelombang rahim" (baca: kontraksi) itu?

Hari itu saya baru benar2 merasakan gelombang rahim. Sekitar pukul 2.00 AM saya terbangun karena perut saya yang mules, sempat terpikir untuk melanjutkan tidur saya tapi terngiang cerita teman saya yang kkehilangan bayinya krn telat dikeluarkan. Karena sebelumnya sempat terjadi Braxton Hicks dan saya sempat malu untuk kembali ke RS. Akhirnya saya teringat pesan suster RS bahwa tanda2 kehamilan adalah timbulnya flek atau lendir, lalu saya pun memeriksa apakah ada flek atau lendir pada saya. Dan ternyata memang iya, saya deg2an sekali waktu itu. Memberanikan diri untuk membangunkan suami saya setelah sempat sebelumnya kami berselisih paham.

Ketika suami saya terbangun dia langsung mengajak saya ke RS, dengan panik dia menuju rumah mama dan papa saya yang berada di sebelah rumah saya untuk membangunkan adik saya yang memarkir mobil di depan mobil kami supaya kami bisa keluar. Kesalnya suami saya ketika adik saya tidak dapat dibangunkan, dan akhirnya ia memutuskan utk memakai kunci cadangan, pintarnya adik saya yang menarik kunci dr dalam agar kami dpt masuk dengan kunci cadangan. Alhamdulillah.

Sesampai di RS ternyata sudah pembukaan 2 dan kami diharuskan menginap disana. Sejam dua jam tiga jam, kami menunggu kontraksi di ruang bersalin yang tidak kunjung datang lagi. Sempat terpikir bahwa ternyata melahirkan tidak sakit..hihi belum aja mendengar cerita selanjutnya. Akhirnya suster menyarankan saya untuk mandi dan berjalan2 di sekitar pekarangan RS agar pembukaan bertambah.


Hari itu krn mama saya sedang dinas haji, bude saya yang menunggui saya di RS. Selanjutnya bulek saya yang juga mengurus saya dr kecil menunggui saya di RS. Akhirnya sampai pukul 02.00 PM, yang artinya sudah 12 jam semenjak pembukaan 2, pembukaan2 selanjutnya hanya sampai pembukaan menuju 4. Suster pun menyarankan di infus. Ohh induksi maksudnya. Awalnya saya tidak setuju untuk di induksi, karena yg katanya induksi itu sakitnya melebihi gelombang rahim alami, tapi suster mengatakan jika tidak diinduksi dikhawatirkan membahayakan si bayi, karena sudah 12 jam sejak mulainya pembukaan, entah bayinya bs kekurangan oksigen, dsb. Tapi benar juga demi kesehatan si bayi saya setuju untuk di induksi.

Dua tetes, 4 tetes, 6 tetes, 8 tetes induksi per menitnya tetap tak berasa untuk saya. Sempat akhirnya saya berpikir, ternyata melahirkan itu tidak sakit seperti yang orang2 ceritakan. Akhirnya pun 12 tetes per detik. Dan benar saja, masya Allah sakitnya benar2 sampai membuat saya menangis2. Ternyata begini ya rasanya ibu2 kita melahirkan kita? Benar ungkapan bahwa melawan orang tua apalagi ibu itu adalah dosa yang paling besar setelah syirik. Tetapi saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak teriak2, mengumpat2, apalagi mencakar2 suami karena sebelumnya saya pernah membaca artikel di bidankita bahwa bayi itu berada tenang di perut ibunya dan tidak semestinya kedatangannya di dunia ini disambut dengan teriakan2 kebisingan yang dapat membuatnya trauma yang nantinya malah akan membuat bayi tersebut menjadi rewel. Di tengah proses induksi, saya sempat bertanya pada suami saya yang terus berdoa untuk mendoakan saya sudah jam berapa sekarang. Suami saya menjawab bahwa sekarang masih jam 4 sore. Astaga, padahal saya mendengar pembicaraan bidan2 disana bahwa paling cepat sehabis Maghrib pembukaan ini br lengkap.

Ditengah2 air mata saya yang terus menetes saya sempat mengelus2 perut saya untuk meminta bantuan Dede untuk membantu saya melalui proses kelahiran ini. And then waw..it's a miracle, jam 4.30 sore alat2 persalinan telah disiapkan, dan segala perawat anastesi jg sudah siap di depan saya yang menandakan bahwa pembukaan saya sudah hampir lengkap. Tetapi saya sempat mendengar bahwa dokter Rizka berhalangan hadir. Bidan2 terus saja mengingatkan untuk tidak perlu khawatir jika dokter Rizka tak dapat hadir, krn bidan2 tersebutlah yang nantinya akan menolong persalinan saya, dan memang yang ada di pikiran saya saat itu saya tidak perduli siapa yg akan membantu proses ini, krn akan mengganggu konsentrasi saya.

Dan benar saja, bidan2 tersebut mengatakan bahwa proses persalinan akan segera dimulai, dan mereka mengatakan hanya orang2 terdekat saja yang dapat menunggui saya. Saya meminta suami saya dan bulek saya tersebut untuk tetap berada disamping saya, padahal dia sendiri sebenernya takut, tapi akhirnya dia memutuskan untuk tinggal tetapi tetap berada di belakang tempat tidur saya karena takut melihat prosesnya.

Dalam hati saya terus mengingat buku2 yang saya baca selama kehamilan saya, memasukkan sugesti2 positif ke Dede untuk terus membantu saya serta membayangkan rasa sakit ini sebagai mawar yang merekah dengan perlahan (sesuai bacaan hypnobirthing saya). Dan alhamdulillah saya bisa mengalihkan beberapa kali gelombang rahim tersebut.

And another miracle comes, dr. Rizka datang dengan perut buncitnya yang kira2 pada saat itu kandungannya berumur 8 bulan. Thanks God.

Sampai akhirnya gelombang rahim itupun datang setiap beberapa detik sekali. Air mata saya terus mengalir, terdengar suara suami saya yang terus membacakan doa untuk saya. Dan saya sempat meminta suami saya untuk menelpon ibu mertua saya. Dan yes, akhirnya dia life via telfon turut mendoakan saya. Akhirnya lambat laun suara2 tersebut mulai samar oleh saya. Yang saya dengar hanya perintah dokter Rizka untuk mengejan ketika gelombang rahim tersebut datang lagi dengan posisi mengejan yang saya pelajari saat senam hamil karena pembukaan telah lengkap.

Dan bla..bli..blu..Mengejan 3 kali yang gagal, episotomi 2 kali, dan bantuan 2 bidan yang mendorong dr perut. Ya memang pada saat itu tekhnik mengejan saya yang saya pelajari selama senam hamil salah sama sekali, tp berkat saya sering mengajak ngobrol si Dede, dia yang membantu dirinya keluar sendiri. Dalam waktu setengah jam Dede the Bibiboi, makhluk kecil nan mungil yang aku tunggu2 slama 36 minggu itupun lahir. Diiringi tangisannya yang kuat dan berhenti setelah bidan menaruhnya di dada saya. Kata2 pertama yg keluar dari mulut saya "Deniz", yahh itulah yang menjadi nama anak saya sekarang ini, M. Denizfarra Satria (Diambil dari kata Deniz: Lautan/Samudra, Faradz: Cerdas) yang artinya Yang Berpengetahuan Luas.

Sebelum Perjuangan

First Picture Taken
M. Denizfarra Satria

0 comments:

Post a Comment